” Hati adalah sesuatu yang khusus,
tak ada yang dapat mengotorinya kecuali diri kita sendiri,
dan tak ada yang dapat membersihkannya kecuali Tuhan YME “
by Irmansyah Effendi, M.Sc
” Hati adalah sesuatu yang khusus,
tak ada yang dapat mengotorinya kecuali diri kita sendiri,
dan tak ada yang dapat membersihkannya kecuali Tuhan YME “
by Irmansyah Effendi, M.Sc
Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah …
semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah …
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai
keinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”
(WS Rendra).
Tahu dan sadar, dua buah kata yang berbeda dan mengandung makna yang berbeda pula. Tahu disini bukan tahu yang dari kedelai lho, tahu dimana otak kita telah menyimpan sesuatu dan bila ada kejadian/hal maka otak akan merespon/seolah-olah sudah mengenalnya. ahh..ngomong apa sih aku..he.he.he..
Kita ambil contoh nyata saja deh ya…
Merokok
Sepertinya semua orang “tahu”, bahkan perokok sendiripun “tahu” bahwa merokok itu dapat merusak kesehatan. Tetapi kenapa mereka masih merokok ? sebuah tanda besar kan ?
Jawabnya adalah karena si perokok belum “sadar” akan hal itu. Sadar adalah sesuatu hal yg besar. tahu sesuatu belum berarti kita sadar akan sesuatu itu.
Kalau kita sadar itu tidak baik, tentu akan kita tinggalkan, begitu juga sebaliknya.
Untuk hal yang lebih besar dari sekedar merokok, kita tahu Tuhan itu ada dimana-mana, mengetahui semua apa yang kita lakukan. Tapi kenapa kita masih mencuri, menipu orang dll. Kita juga tahu Tuhan maha pengasih, selalu memberi yang terbaik untuk kita, walaupun saat dialami terasa berat, tapi mengapa saat mengalami kehidupan yang susah yang sejatinya adalah anugerahNya kita tidak pasrah saja kepadaNya, membiarkan hanya kehendakNya saja yang terjadi?
Sadar adalah sesuatu yang besar.
” Tak ada yang tak dapat dilakukakan Nya,
tapi ada satu yang tak dapat dilakukan Nya
berhenti mengasihi kita “
by Irmansyah Effendi, M.Sc