Puisi dari WS Rendra

September 22, 2008

 

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah …
semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah …
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai
keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra).


Tahu dan Sadar

September 18, 2008

Tahu dan sadar, dua buah kata yang berbeda dan mengandung makna yang berbeda pula. Tahu disini bukan tahu yang dari kedelai lho, tahu dimana otak kita telah menyimpan sesuatu dan bila ada kejadian/hal maka otak akan merespon/seolah-olah sudah mengenalnya. ahh..ngomong apa sih aku..he.he.he..

Kita ambil contoh nyata saja deh ya…

Merokok :-( Sepertinya semua orang “tahu”, bahkan perokok sendiripun “tahu” bahwa merokok itu dapat merusak kesehatan. Tetapi kenapa mereka masih merokok ? sebuah tanda besar kan ?

Jawabnya adalah karena si perokok belum “sadar” akan hal itu. Sadar adalah sesuatu hal yg besar. tahu sesuatu belum berarti kita sadar akan sesuatu itu.

Kalau kita sadar itu tidak baik, tentu akan kita tinggalkan, begitu juga sebaliknya.

Untuk hal yang lebih besar dari sekedar merokok, kita tahu Tuhan itu ada dimana-mana, mengetahui semua apa yang kita lakukan. Tapi kenapa kita masih mencuri, menipu orang dll. Kita juga tahu Tuhan maha pengasih, selalu memberi yang terbaik untuk kita, walaupun saat dialami terasa berat, tapi mengapa saat mengalami kehidupan yang susah yang sejatinya adalah anugerahNya kita tidak pasrah saja kepadaNya, membiarkan hanya kehendakNya saja yang terjadi?

Sadar adalah sesuatu yang besar.


Keragu-raguan = ego

Agustus 7, 2008

Ketika aku sehat, begitu mudah ku akui keindahanMu
Aku bangga pada diriku,
Aku sombong
Aku merasa begitu dekat denganMu melebihi orang lain
Sepertinya aku begitu yakin akan KeberdaanMu, KasihMu, MujizatMu
Aku merasa kuat

Ketika aku sakit, takut akan hal yang aku tidak tahu pasti
Kebanggaanku sirna
ternyata aku seorang pengecut
Ternyata aku belum cukup yakin akan KasihMu, mujizat kesembuhanMu
Aku lemah dan rapuh
Begitu mudahnya aku berpaling dari Mu
MeninggalkanMu

Kini aku tahu, hanya sebatas tahu, belum cukup mengerti apalagi sadar
bahwa aku belum cukup YAKIN dan PERCAYA kepadaMU seutuhnya
bahwa aku hanya mengikuti egoku, ke-aku-anku, mementingkan diriku saja
bahwa aku masih ragu untuk selalu dijalanMU
bahwa aku masih belum cukup menggantungkan seluruh hidup dan diriku seutuhnya kepadaMU

YANG TERKASIH,
berilah aku sedikit cahaya kasih indahMu
agar hati yang telah padam ini kembali bersinar terang
agar sinarnya bagai lentera menerangi alam sekitarnya

LOVE :)


Finally I Found YOU

Juli 26, 2008

Tuhan …

Mata ini telah melihat CahayaMu
Maka ia kutinggalkan
Telinga ini telah mendengar SuaraMu
Maka ia kutinggalkan
Lidah ini telah merasakan nikmatMu
Maka ia kutinggalkan
Hidungku telah mencium harumnya aromaMu
Maka ia kutingggalkan
Tangan ini telah menjamah bayanganMu
Maka ia kutinggalkan
Kaki ini telah membawaku berlari kepadaMu, bersujud padaMu
Maka iapun kutinggalkan

Kini …
berhadapan denganMu
Diri ini kutinggalkan pula
Sehingga tidak ada lagi
DiriMu dan diriku
Yang ada hanya Kamu
hanya Kamu
hanya Kamu………………..